Kisah Nizma dan Anak-anak Yatim Piatu Korban Tsunami Aceh

Nizma Scoffield.
Sepuluh tahun silam, tepatnya tanggal 26 Desember 2004, Aceh diguncang gempa berkekuatan besar, 9,1 skala Richter. Tidak ada yang menyangka, jika gempa tersebut menjadi tragedi kemanusiaan yang paling besar yang pernah tercatat.

Bukan akibat gempa, atau reruntuhan yang menyebabkan banyak orang meninggal dalam gempa tersebut, tetapi bencana susulan dari gempa tersebut, yaitu tsunami. Yang diperkirakan sekitar 230 ribu orang meninggal, baik ditemukan atau menghilang.

Tidak ada yang pernah menyangka, jika surutnya air laut saat itu merupakan awal petaka bagi masyarakat pesisir Aceh. Banyak kisah sedih yang menyelimuti korban, dan banyak juga anak-anak yang kehilangan orangtuanya, dan menjadi yatim piatu.

Tetapi di balik itu semua, selalu ada kisah mengharukan, terutama oleh relawan yang bahu membahu menolong para korban, terutama anak-anak yang kehilangan orangtuanya. Salah satunya dialami oleh Nizma Scoffield.



Nizma dan anak-anak yatim piatu korban tsunami Aceh 2004.
Wanita asal Indonesia ini, kala itu menikah dengan pria asal Inggris dan menetap di sana. Namun, tiga minggu setelah mendengar tsunami dan para korbannya, wanita tersebut langsung terbang ke salah satu desa di Aceh di Paroy, Lhoong, di mana menjadi rumah bagi 50 anak-anak yang kehilangan orangtuanya.

Wanita berumur 34 tahun tersebut terbang pada bulan Januari 2005, tiga minggu setelah tsunami menerjang. Ia pun kembali pulang ke Indonesia, untuk menyelamatkan sekitar 30.000 anak yatim piatu.

"Saya sangat sedih. Saya bahkan tidak bisa lagi menangis ketika tiba di sana. Kerusakannya sangat parah. Kami berusaha menghibur anak-anak yatim piatu dengan bernyanyi, menggambar, dan memberika mereka hadiah. Saat melihat mereka tertawa, hati ini serasa patah," ucap Nizma.

Wanita ini memang tidak bekerja sendiri saat itu, ia mengumpulkan dana untuk membangun rumah, untuk melindungi anak-anak yang menjadi korban dari hujan dan dinginnya cuaca malam hari.

Kini sudah sepuluh tahun berlalu, Nizma tidak pernah melewatkan perkembangan anak-anak asuhnya. Wanita yang kini tinggal di Bromley, London selatan selalu menyempatkan diri ke Indonesia setiap enam bulan sekali, baik untuk mengantarkan uang yang telah dikumpulkannya atau melihat perkembangan mereka.

Dan ia kini berharap, bisa membangun sebuah bisnis untuk anak-anak tersebut. Sehingga mereka bisa mandiri, walaupun tanpa kedua orangtua yang mendampingi mereka.

"Selama sepuluh tahun semuanya sudah berubah. Jalan-jalan kini sudah dibangun kembali, rumah yang luluh lantak sudah kembali dibangun. Kami dengan senang hati mengantarkan anak-anak untuk mendapatkan pendidikan demi masa depan mereka," tambahnya.

Jika Anda ingin menyumbangkan sebagian harta Anda, bisa melakukannya juga, dengan mendonasikannya. Untuk keterangan lengkap Anda bisa mengklik tautan ini chariots4 children. org.

via Daily Star
Loading...

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Kisah Nizma dan Anak-anak Yatim Piatu Korban Tsunami Aceh"

Post a Comment