Nenek Ini Tuntut Pemerintah Jepang Rp208 Miliar

Lee Ok-seon. Foto
Pada zaman penjajahan, banyak sekali kisah pilu yang masih terbawa hingga saat ini. Terutama kepada mereka yang menjadi korban kejamnya perang. Bukan hanya pria saja yang harus bertempur, bahkan wanita dan anak menjadi korbannya.

Apalagi Jepang, yang saat itu sangat ambisius untuk menaklukkan beberapa negara, dan bisa menguasai sumber dayanya. Bahkan tentara Jepang terkenal akan kekejamannya, dan tidak peduli dengan nasib warga sipil.

Salah satunya yang masih terkenang kekejaman tentara Jepang adalah seorang nenek bernama Lee Ok-seon, yang diculik dari jalanan. Dan kejadian tersebut terukir di ingatan selamanya.

Ketakutan, saat itu ia baru berusia 15 tahun ketika berjalan pulang dari tempat kerja, dan tentara Jepang membawa untuk di tempatkan di rumah bordil militer.

Selama tiga tahun ia ditahan sebagai budak pemuas nafsu tentara Jepang, di mana ia diharuskan melayani hingga 50 tentara per hari.

Lee adalah salah satu dari hanya beberapa lusin perempuan yang masih hidup sebagai 'perempuan penghibur.' Ia dipaksa bekerja di rumah tersebut antara tahun 1932 hingga 1945.

Sekarang, umurnya telah 87 tahun dan sangat rapuh, Lee kini mengajukan kompensasi kepada pemerintah Jepang sebesar US$16 juta atau sekitar Rp208 miliar. Hal tersebut diajukan karena ia harus melepas kegadisannya di tangan Tentara Kekaisaran Jepang, selama Perang Dunia Kedua.

Bersama dengan 11 perempuan lainnya, yang mengalami ketidaknyamanan dalam hidupnya, Lee masih berjuang di pengadilan California. Lee ingin pengakuan dari penderitaannya di tangan pasukan Jepang, selama Perang Dunia Kedua.

Dia juga ingin permintaan maaf dari pemerintah Jepang, atas trauma yang kini dialaminya.

"Mereka meraih lengan saya, sehingga saya tidak bisa bergerak dan hari berikutnya mereka mengikat saya di mobil," kata nenek paruh baya ini.

Dia dibawa ke Yanjin, sebuah kota yang terletak di Cina yang diduduki Jepang, dekat perbatasan dengan Korea Utara. Lee mengatakan dia ditahan dengan lima wanita lain, yang mengalami pelecehan setiap harinya.

"Saya saat itu berumur 15 tahun, dan harus menerima 40 atau 50 tentara setiap hari," kata Lee, kembali membungkuk dan meneteskan air matanya.

Lee masih ingat bahwa, semakin tinggi pangkat prajurit, mereka akan semakin kejam.

Nenek yang kini tinggal hanya satu jam dari Seoul di tempat khusus untuk korban yang bernama House of Sharing, mengatakan kondisinya cukup buruk, akibat trauma permanen yang berpengaruh pada kesehatannya.

Ia tidak dapat melahirkan anak. Karena pada saat itu ia kerap menerima suntikan berulang kali, berupa sifilis 606 yang meninggalkan banyak wanita tidak dapat memiliki anak.

Lee adalah salah satu dari segelintir orang yang selamat dari sistem pelecehan paksa Kekaisaran Jepang di Korea, dan perempuan sebagian besar lainnya di Asia.
loading...

0 Response to "Nenek Ini Tuntut Pemerintah Jepang Rp208 Miliar"

Post a Comment